Monday, October 08, 2007

Pelatihan: Penting atau tidak penting ?!!

Sebuah organisasi ataupun perusahaan senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman. Perkembangan ilmu dan teknologi mengharuskan kita selalu aktif untuk membuka mata dan telinga terhadap perubahan yang terjadi. Peralihan zaman dari Information Age menjadi Conceptual Age semakin dekat. Penyelenggaraan pelatihan menjadi salah satu jawaban bagi perusahaan untuk men’charge’kan kembali kinerja karyawan. Mulai dari pelatihan yang berupa teknis hingga pelatihan yang mengedepankan perubahan attitude kerap kali menjadi pilihan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan Sejauh mana pelatihan tersebut dianggap penting atau tidak penting dalam sebuah organisasi/perusahaan, perlu dilakukan atau tidak? Berikut ini dijabarkan beberapa pendapat dari berbagai sumber.
Mengapa pelatihan?
Menurut Ary Ginanjar A, dalam buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ menyebutkan bahwa Globalisasi adalah bukti nyata akan kebutuhan manusaia untuk berinteraksi dan bersinergi dengan kelompok lain di luar kelompoknya. Tidak diragukan bahwa pikiran kelompok dan sinergi akan menghasilkan sebuah pemikiran yang jauh lebih cerdas dan lebih sempurna. Peningkatan kecepatan informasi, ilmu pengetahuan, juga jaringan kerja, membuat kita semakin bergantung pada pemikiran kelompok-kelompok lain dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan pelatihan ketangguhan social (social strength) dalam menghadapi perubahan yang ada.

Tuesday, October 02, 2007

Pilih mana… Pendidikan atau Pelatihan?

Tidak jarang diketemukan perusahaan mengutus beberapa karyawannya dari berbagai divisi mendapat kesempatan tugas belajar (melanjutkan studi), mengikuti seminar, pelatihan, ataupun workshop dengan harapan mereka dapat mengembangkan kompetensinya, meningkatkan kinerja ataupun sekedar menambah pengetahuan terbaru tentang perkembangan bisnis yang digeluti. Akan tetapi hasil yang ada terkadang tidak sesuai dengan harapan. Mungkinkah hal itu terjadi akibat kesalahan karyawannya yang tidak bersungguh-sungguh mengikuti pendidikan/pelatihan itu? Atau kesalahan perusahaan dalam memilih pembelajaran yang sesuai bagi mereka? Sebenarnya apa itu pendidikan dan pelatihan? Mengapa kedua hal itu disebut sebagai sesuatu yang serupa tapi tidak sama?Berikut ini beberapa definisi dan kajian tentang kedua hal tersebu.

Dalam buku “Menyemai Teknologi Pendidikan”, buah karya Prof Yusufhadi Miarso, MSc, disebutkan bahwa tenaga kerja yang dibutuhkan dalam era perubahan ini adalah mereka yang terdidik dengan baik, terlatih, dan mengusai informasi (well educated, well trained, well informed).
Lebih lanjut disebutkan bahwa pendidikan adalah pembentukan sikap, penguasaan keterampilan, dan perolehan pengetahuan sebelum memasuki dunia kerja. Sedangkan pelatihan adalah peningkatan kemampuan secara khusus dalam suatu lingkungan kerja.
Sedangkan Jay Cross dalam tulisannya Training vs. Education:A Distinction That Makes A Difference yang dipublikasikan pada Bank securities Journal, menyebutkan bahwa Pelatihan bukanlah pendidikan. Pendidikan diukur dari waktu (tenure) seperti halnya mengikuti seminar atau kuliah 4 tahun di kampus. Pelatihan (training) diukur dari ‘apa yang dapat kamu lakukan setelah kamu menyelesaikan masa pelatihan itu’. Training adalah melakukan. Training meningkatkan performance. Tujuan yang baik dalam sebuah training adalah memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu (doing something), bukan memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu (knowing something). Dalam training bukan satu kesempatan hasilnya bisa langsung dirasakn, sebab training merupakan proses. Kebiasaan positif harus selalu diulang kembali jika meinginkan materi pelatihan itu terus melekat dalam diri individu.


Monday, September 24, 2007

Apa itu kurikulum?

M. Skilbeck (1984):
The learning experiences of students, in so far as they are expressed or anticipated in goals and objectivies, plans and designs for learning and implementation of these plans and design in school environments. (pengalaman-pengalaman murid yang diekspresikan dan diantisipasikan dalam cita-cita dan tujuan-tujuan, rencana-rencana dan desain-desain untuk belajar dan implementasi dari rencana-rencana dan desain-desain tersebut di lingkungan sekolah.
Pengertian kurikulum di atas mengandung arti bahwa kurikulum itu memiliki tujuan/sasaran tertentu. Setelah tujuan/sasaran itu jelas, barulah mendesain metode pembelajaran yang menunjang proses pembelajaran terebut. Akan tetapi penerapan dari model desain system pembelajaran itu hanya terbatas pada lingkungan sekolah saja.
Kelemahan dari definisi ini adalah kegiatan yang dilakukan diluar lingkungan sekolah yang diselenggarakan sekolah tidak dianggap sebagai kurikulum walaupun menunjang proses pembelajaran. Padahal bisa saja kan kegiatan yang dilakukan diluar sekolah itu merupakan salah satu jalan untuk membuat murid-murid itu lebih mendalami pelajaran disekolah , wujud penerapannya, dan makna pendidikan.

J.Wiles & J.Bondi (1989)
..The curriculum is a goal or a set of values, which are activated through a development for students. The degree to which those experiences are a true representation of the envisioned goal or goals is a direct function of the effectiveness of the curriculum development efforts. (Kurikulum ialah seperangkat nilai-nilai, yang digerakkan melalui suatu pengembangan proses kulminasi dalam pengalaman-pengalaman di kelas untuk murid-murid. Tingkat terhadap pengalaman tersebut merupakan suatu representasi yang benar terhadap cita-cita yang diimpikan ialah suatu fungsi langsung daripada efektivitas dari usaha-usaha pengembangan kurikulum)
Pengertian kurikulum diatas mengandung arti bahwa kurikulum didapati dari hasil pengalaman-pengalaman di kelas yang mengalami pengembangan kulminasi (sampai puncak tertinggi/maksimal), yang kemudian diterapkan kembali dan mengalami perubahan2 yang lebih baik dari sebelumnya. Selain itu kurikulum mengandung nilai-nilai (dalam hal ini bisa ditafsirkan nilai2 yang berlaku dimasyarakat, nilai2 agama, kewarganegraan, dsb) yang sesuai dengan tujuan utama pendidikan yaitu memanusiakan manusia. Lebih lanjut, kurikuum juga harus bias merepresentasikan (mewakili) kebenaran dari cita-cita semula pada saat kurikulum itu akan dibuat, dan memiliki sisi efektivitas dalam pengembangan kurikulum dan fungsi langsung dalam masyarakat. Maksud fungsi langsung adalah langsung terlihat manfaat dari prktek-praktek berlandaskan teori yang didapat dalam pelajaran2 dari sekolah, baik yang dilakukan oleh sekolah di sekolah maupun dilakukan di luar sekolah. Efektivitas dari usaha pengembangan kurikulum maksukdnya adalah dengan sistematis dan melihat situsi kondisi pola murid-murid pada saat itu, maka disusun kurikulum yang flexible tapi tegas yang memunculkan potensi tiap individu dengan aturan-aturan yang tidak terlalu berat.